>> Rumah Dakwah Indonesia <<
present >>
Rumahku Surgaku : Kelembutan yang Menyenangkan
Oleh : Satria Hadi Lubis (Ustadz Hadi)
Tempat : Jakarta
Tgl Lahir : 1965
No HP : 081316444034
Email : satriahl@gmail.com
Fb : satriahadilubis@gmail.com
Status : Menikah
Anak : 8
Domisili : Jakarta
Pendidikan / background : Pernah kuliah S3 Unpad
Aktifitas : Dosen, trainer, penceramah
Idealnya, interaksi antar suami isteri dilumuri dengan kelembutan, baik dalam komunikasi, sikap dan perilaku. Suami isteri harus membiasakan diri membubuhi ucapannya dengan magic words (kata-kata ajaib yang melunakkan hati). Jika suami disediakan makanan oleh isteri ucapkanlah terima kasih. Jika isteri melihat suaminya tidak senang, segera ucapkanlah maaf. Kata magic words yang perlu sering disediakan selain terima kasih dan maaf adalah silakan, permisi, tolong, dan semisalnya. Jangan menggunakan magic words ketika pengantin baru saja, tapi juga pengantin lama perlu sering mengucapkannya, baik ketika ketemu tatap muka maupun lewat komunikasi jarak jauh.
Selain itu, kurangi komunikasi yang ujungnya menggunakan tanda seru (perintah). Sebaliknya, perbanyak kalimat berita atau pertanyaan untuk menghaluskan cara komunikasi suami isteri. Hal ini mungkin terasa sulit bagi suami atau isteri yg berasal dari suku tertentu yang terbiasa bersuara keras, namun jika dibiasakan insya Allah cara komunikasi kita bisa berubah lebih lembut.
Kelembutan adalah watak dari ajaran Islam. Rasulullah saw adalah orang yang paling lembut kepada orang lain, apalagi terhadap isteri-isterinya. "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya" (Qs. 3:159).
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya Alloh adalah Dzat Yang Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam setiap perkara" (HR Bukhori Muslim). Beliau membuktikan langsung dalam perilaku beliau tentang kelembutan tersebut. Beliau tidak pernah melotot, menaikkan nada suara dan marah kepada istri nya. Beliau juga banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit. Sungguh suami teladan adalah Nabi kita Muhammad saw!
Suatu ketika beliau pernah pulang kemalaman dan istrinya Aisyah ra tidak mendengar suaminya mengetuk pintu. Setelah tiga kali Rasulullah saw mengetuk pintu dan memberi salam, beliau dengan ringan tidur di teras rumahnya tanpa rasa kesal berlebihan. Beliau maklum mungkin isterinya kelelahan setelah seharian mengurus rumah. Tidak ada kemarahan yang ditunjukkan oleh beliau saw.
Beliau juga biasa memanggil istri-istrinya dengan panggilan kesukaan dan panggilan yang indah. Seperti ya Humaira untuk memanggil Aisyah. Memanggil dengan panggilan kesayangan kepada suami atau isteri kita merupakan sunnah rasul yang perlu ditiru olah suami isteri di jaman sekarang. Panggillah isteri atau suami kita dgn panggilan yang disukainya dan hanya kita yang memanggil pasangan dengan panggilan tersebut, sehingga terasa kemesraan dan makna khususnya. Jangan dengan panggilan yang terlalu umum dan pasaran, seperti mas, say, honey, ummi, abi atau yang semisalnya, sehingga menjadi tidak spesial dan istimewa.
Kalau bisa di dalam keluarga ada kode etik untuk tidak saling teriak, mengucapkan umpatan kasar, apalagi sampai melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Memang KDRT bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia merupakan proses panjangnya dari seringnya suami isteri berkata dan berperilaku kasar kepada pasangannya. Yang kemudian dibalas dengan yang lebih kasar oleh pasangannya. Demikian terus berkulminasi sampai akhirnya terjadi KDRT.
Perlu juga dipahami bahwa kadar kekasaran yang dilakukan oleh suami atau isteri kepada pasangannya tidak sama dengan kekasaran yang diterima oleh suami atau isteri dari orang di luar rumah. Kadar sakit hatinya lebih tinggi jika dilakukan oleh suami atau isteri kepada pasangannya daripada dilakukan oleh orang lain. Sebab orang yang paling potensial menyakitkan hati kita justru adalah orang yang paling kita cintai, yaitu suami, isteri atau anak-anak kita. Oleh sebab itu, berhatilah berkata-kata dan berperilaku terhadap pasangan dan anak. Luka akibat kekasaran yang dilakukan pasangan sembuhnya lebih lama daripada luka akibat kekasaran yang dilakukan oleh orang di luar rumah.
Sebagai tambahan, beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan sebuah tulisan di facebook saya. Saya tidak tahu siapa yang menulis. Sebuah tulisan yang menarik, sehingga saya simpan sampai sekarang dan saya ulang-ulang membacanya agar bisa saya terapkan di rumah saya. Judulnya : Rumah Tanpa Teriakan.
- Kita semua ingin rumah tangga layaknya surga agar penghuninya betah di dalamnya.
- Dan ketahuilah, ciri utama penduduk surga di antaranya bicara yang lembut. Tidak suka teriak atau membentak.
- Kebiasaan berteriak justru merupakan ciri penduduk neraka (Qs 35:37).
- Maka jika ada suara teriakan di dalam rumah, itu artinya suasana surga sudah berganti suasana neraka. Bahaya!
- Sebab, kebiasaan teriak atau bicara melebihi desibel suara normal akan mengeringkan cinta.
- Sejatinya cinta adalah kelembutan. Dan tidaklah sesuatu disertai kelembutan kecuali akan memperhiasnya (Hadits).
- Itulah kenapa bukti cinta kepada Allah diminta kita tuk berdzikir dengan suara yang lembut, tidak berteriak di hadapanNya (QS 7:205).
- Dan kebiasaan berteriak di dalam rumah tangga sejatinya akan mengurangi rasa cinta.
- Sulit kita lihat sepasang kekasih yang dimabuk cinta berbicara sambil teriak-teriak. Kebalikannya, mereka malah suka bisik-bisik.
- Pelan. Tapi nge-jlebb ke hati. Sebab meski tanpa suara, hati berteriak memproklamirkan cinta.
- Penting bagi setiap keluarga yang merindukan suasana surga agar mengurangi teriakan di dalam rumah, terlebih untuk anak-anak kita.
- Kebiasaan berteriak atau membentak di depan anak diakui oleh para ahli akan mengaktifkan batang otak anak.
- Batang otak itu yang disebut otak reptil atau otak refleks. Anak cenderung merespon masalah tanpa berpikir.
- Diledek teman refleks memukul. Ini tersebab batang otaknya lebih dominan daripada korteksnya yang ajak dia tuk berpikir.
- Anak yang batang otaknya menebal cenderung merespon sesuatu dengan prinsip 'flight or fight'.
- Solusi jarang keluar dari anak dengan model begini. Yang ada adalah puaskan emosi.
- Maka anak-anak yang gampang marah, tawuran dan sebagainya bisa dibilang karena batang otaknya cenderung lebih dominan.
- Dan kalau ditelusuri penyebab awalnya yakni kebiasaan dibentak atau diteriaki dari kecil baik oleh orang tua atau guru.
- Dampak berikutnya dari kebiasaan berteriak di hadapan anak adalah menghancurkan sel otaknya.
- Satu kali teriakan kepada anak di bawah usia 5thn akan menghancurkan 10ribu sel otaknya setiap teriakan.
- So, hitung deh udah berapa kali bentak anak. Kalikan 10rb. Maka itulah dosa kita yang buat anak kita gak pintar-pintar.
- Dan berteriak ini belum tentu membentak. Bisa jadi sekedar bercanda untuk menyemangati. Ini tetap bahaya dan terlarang.
- Kalau mau teriak di lapangan aja dimana jarak ke anak kira-kira seratus meter.
- Kembali kepada inti rumah tangga surga. Yakni kebiasaan bicara lembut. Bahkan bisik-bisik di telinga anak tumbuhkan cinta.
- Tentu kelembutan ini bukan berarti abaikan ketegasan.
- Sebab ketegasan itu bisa dilakukan tanpa harus teriak.
- So, jika ada yang teriak-teriak di rumah kita, katakan : ini rumah surga. Di surga bicaranya lembut. Hanya penduduk neraka yang suka teriak.
- Kesimpulannya, jika ingin memperbaiki pola asuh dan hubungan harmonis dalam rumah tangga, perbaiki cara komunikasi kita.
- Dengan perbaikan komunikasi, maka menjadi baik lah amalan kita yang lainnya (QS. 33:70-71).
Semoga keluarga kita adalah keluarga yang interaksinya selalu mengutamakan kelembutan dan kasih sayang.
T : Pertanyaan saya, bagaimana jika tantangan untuk menghadirkan surga di rumah kita datangnya dari ibu mertua. Karena saat ini saya tinggal bersama ibu mertua..
J : Jika keluarga kita tinggal di rumah ibu mertua maka kita tidak punya otoritas penuh mengatur rumah. Tantangannya sangat berat jika tinggal di rumah mertua. Solusi efektifnya adalah pindah rumah. Jangan tinggal di rumah mertua. Lain halnya jika ibu mertua yang "menumpang" di rumah kita maka kita lebih punya otoritas.
T : Bagaimana cara menghapus rasa bersalah sebagai ibu sekaligus ayah pada anak-anak? Sadar saat mereka kecil-kecil kadang emosi, naik beberapa oktaf. Sudah minta maaf dan mencoba memperbaiki seiring waktu. Tapi perasaan bersalah tetap ada.
J : Rasa bersalah mendidik anak merupakan hal yang wajar karena kita sebagai orang tua mendidik anak secara learning by doing. Sebagai ganti rasa bersalah itu maka doakan mereka. Beri pendidikan terbaik untuk mereka. Tapi juga jangan menutupi rasa bersalah tersebut dengan memanjakan mereka. Sebagai yang dilakukan sebagian orang tua yang membelikan anaknya hp mahal, motor dan mobil karena rasa bersalah tidak punya waktu cukup mendidik anak. Ini keliru. Jangan memanjakan anak walau orang tua kaya, tapi didik anak dengan pendidikan terbaik.
T : Saya punya keponakan yang tinggal bersama saya dan ibu saya. Keponakan saya ini sangat memiliki sifat yang sangat keras. Dan mudah emosi. Suka melawan perkataan neneknya. Bagaimana cara mengatasi keponakan yang memiliki sifat seperti ini ustadz. Riwayat masa kecilnya. Orangtuanya suka marah yang berlebihan dan bahkan suka memukul jika anaknya bersalah. Usianya SMP kelas dua.
J : Sekali lagi ini membuktikan bahwa anak yang suka dipukul akan tumbuh kembang sebagai anak yang keras kepala. Oleh karena itu kita sebagai orang tua jangan suka memukul dan berkata kasar kepada anak nanti mereka menjadi pemberontak. Jika sudah terlanjur seperti yang dialami oleh keponakan ibu, maka sebaiknya lebih banyak memakai metode diskusi untuk mencari kesepakatan. Dan ajak ia bertanggung jawab terhadap kesepakatan yang sudah dibuat. Jika ia melanggar beri sangsi yang tegas. Dianjurkan juga jika ia tidak melanggar agar diberi reward.
T : Bagaimana cara agar rumah tidak dipenuhi teriakan-teriakan seperti yang telah dijelaskan diatas, jika latar belakang keluarga dari dulu emang begitu, berteriak-teriak, marah-marah dll yang menyebabkan suasana rumah jadi panas. Itu bagaimana ya tadz, saya sebagai anak untuk memberi tahu? Terimakasih.
J : Jika posisi kita sebagai anak maka agak sulit merubah karakter orang tua atau kakak yang ngomongnya keras dan marah-marah. Posisi anak atau adik membuat kita kurang wibawa di mata mereka. Lebih baik bersabar dan tidak ikut-ikutan keras dan marah-marah. Dan sering-sering baca Qur'an di rumah yang didengar oleh penghuni rumah yang lain untuk menyejukkan suasana rumah. Namun jika nanti kita sudah berkeluarga dan menjadi bapak atau ibu di rumah kita sendiri, maka budaya lemah lembut lebih bisa diwujudkan. Mulai dari diri sendiri yang tidak pernah berkata kasar dan keras kepada pasangan dan anak. Maka nanti anak-anak akan mengikuti budaya lemah lembut tersebut.
T : Bagaimana cara menyembuhkan trauma pada anak-anak yang pernah mengalami perpisahan kedua orang tua nya... yang sebelumnya ada tindakan kekerasan dalam rumah tangga...
J : Tidak mudah menghilangkan trauma pada anak yang orang tua nya berpisah dengan KDRT. Kadang hal ini butuh penanganan serius dari psikologi/psikiater, terutama untuk trauma berat. Mungkin cara lain yang bisa dilakukan adalah memberikan penjelasan kepada anak tersebut bahwa apa pun yang terjadi pada orang tua nya maka anak adalah outsider (pihak luar) yang tidak terlibat. Anak lah yang bertanggung jawab mendewasakan dirinya sendiri. Jangan suka menyalahkan orang tua. Allah mengecam orang yang suka menyalahkan ortu atau orang-orang terdahulu dengan firmannya : " atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?" (Qs 7 ayat 172). Ayat ini mengecam orang yang suka menyalahkan orang tua terdahulu akibat perbuatan buruknya. Sekali lagi beri pengertian kepada setiap anak bahwa jangan sampai hal yang buruk dari orang tua menjadi alibi untuk menyalahkan mereka. Hakikatnya setiap orang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
T : Ana mau tanya ustadz, mungkin ini agak sedikit menyimpang dari materi, begini tadz, persiapan apa saja yang harus dilakukan seorang wanita dan pria yang ingin menikah. Apakah sulit?
J : Persiapan yang harus dilakukan bagi mereka yang mau menikah ada lima :
- Persiapan waktu. Tentukan dahulu kapan target waktu menikah. Umur berapa. Sebelum waktu itu tiba maka jangan pacaran atau pdkt dengan lawan jenis. Hanya menambah dosa.
- Persiapan mental (pikiran). Sambil menunggu waktu menikah tiba maka tambah wawasan tentang ilmu keluarga dan parenting. Banyak baca buku dan diskusi. Termasuk mengaji.
- Persiapan karakter. Persiapan ini berupa mengubah karakter-karakter yang tadinya egois menjadi lebih peduli dan perhatian kepada orang lain. Ingat menikah berarti hidup dengan orang lain, sehingga tidak lagi berpikir untuk diri sendiri. Banyak mereka yang menikah tapi tidak siap dengan karakter berbagi dan care kepada orang lain.
- Persiapan spritual. Dengan memperbanyak ibadah dan doa. Apalagi bagi lelaki sebagai calon kepala rumah tangga. Maka ia harus bisa memimpin istrinya menjadi imam dalam ibadah keluarganya.
- Persiapan dana. Menikah membutuhkan biaya. Khusus untuk lelaki sebaiknya sudah bekerja walau masih belum mapan. Sebab kebanyakan orang mapan bukan di usia 20an tapi nanti kalau sudah berusia 35 tahun ke atas.
T : Saya orang batak ustadz, jadi kalau dirumah memang saudara-saudara saya juga berbicara kuat tetapi maknanya bukan marah dll. Tapi maknanya menyampaikan dan baik. Apa logat batak yang identik dengan suara yang kuat dan keras juga salah ustadz?
J : Membiasakan berbicara lemah lembut bisa dilakukan siapa saja, termasuk oleh mereka yang berasal dari suku yang terkenal keras (misalnya batak, betawi atau makasar). Kata kuncinya adalah latihan dan latihan. Saya juga orang batak (lubis) yang terbiasa berbicara keras. Namun seiiring waktu alhamdulillah saya bisa berbicara lembut dengan istri dan anak. Bahkan sebagian orang mengira saya bukan batak karena logat bicaranya tidak seperti orang batak. Saya berubah karena latihan bertahun-tahun untuk menjadi orang yang lebih lembut. Saya ingin mencontoh Nabi saw sebagai teladan kita yang lemah lembut.
T : Gimana yaa dengan saya yang janda dengan anak yang tinggal dengan mertua bagaimana cara saya mendidiknya apakah saya berdosa karena saya tidak mengurus anak saya tiap hari.
J : Yang jadi pertanyaan saya mengapa anak tidak tinggal bersama dengan ibu? Malah tinggal di mertua. Menurut logika, agama Islam, dan hukum perkawinan di Indonesia sebaiknya anak yang masih kecil tinggal dengan ibunya. Jika ibunya bekerja maka boleh dititipkan kepada orang lain (pembantu/orang tua/saudara/dll) tapi idealnya ibu harus sering mengisi waktu dengan anak. Jangan quality time saja yang dikejar tapi juga quantity time bersama anak (kecuali anaknya sudah besar). Ibu bertanggung jawab di hadapan Allah terhadap pendidikan anaknya. Jadi saran saya sebaiknya anak ikut ibu atau sering bersama ibunya. Lebih baik hidup sederhana bersama anak daripada anak terpisah dari ibunya.
T : Yang jadi pertanyaan dan ini menjadi polemik, benarkah orang belum menikah tidak boleh berfikir jauh apalagi punya keterangan mendasar, karena belum merasalan rumah tangga, atau sah sah saja.
J : Malah bagus sebelum menikah sudah berpikir jauh tentang keluarga dan memberikan masukan/nasehat/ceramah tentang keluarga walau belum mengalaminya. Dengan begitu ia akan termotivasi kelak membentuk keluarga yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Perlu juga dipahami bahwa dalam Islam tidak mesti orang yang menasehati kita harus sudah melakukan terlebih dahulu nasehatnya. Nasehat ya nasehat. Amal ya amal. Itu dua hal yang berbeda. Tidak dewasa jika kita hanya mau dinasehati oleh orang yang sudah melakukan saja. Walau lebih afdhol yang memberi nasehat telah melakukan apa yang dinasehatinya kepada orang lain.
T : Bagaimana caranya memberi pengertian ke suami bahwa menyalakan "rasa" seperti pengantin baru itu tetap penting bagi pengantin lama? Karena suami menganggap, tidak perlu membangkitkan rasa itu dan tidak perlu panggilan khusus.
J : Memang pada umumnya lelaki tidak memandang penting romantisme. Padahal Rasulullah saw sebagai teladan kita adalah orang yang romantis. Oleh sebab itu istri perlu berinisiatif menumbuhkan romantisme jika suami terkesan kaku. Caranya dengan sering kencan. Pergi berduaan tanpa bawa anak. Atau bersikap romantis lebih dulu. Kasih puisi ke suami atau hadiah. Walau awalnya suami biasa-biasa aja bahkan mentertawakan romantisme istri tapi lama kelamaan ia akan belajar juga dan akhirnya membalas romantisme istri. Jangan malu kalau sudah menjadi istri untuk mengawali romantisme.
No comments:
Post a Comment