Diskusi Dana Darurat bersama Forum Indonesia Muda Club Finance
Pemateri >>
Nama : Ahmad Gozali
Tempat & Tgl Lahir : Tangerang, 28 Desember 1979
Alamat : Jl. Irian Jaya No.24 Cimone Mas Permai, Tangerang
Agama : Islam
Status : K / 3
Pendidikan :
> STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) - Spesialisasi Akuntansi
> STEI SEBI (Shariah Economics & Banking Institute) - Jurusan Manajemen Perbankan Syariah
Sertifikasi Profesi : Qualified Wealth Planner, IAFP Global, Pte. Ltd.
Aktivitas Sekarang :
> Komisaris PT Zelts Aishwarya Mulia
> Konsultan Perencanaan Keuangan Zelts Consulting
> Dewan Kode Etik Independent Financial Planner Club
Ahmad Gozali adalah seorang Perencana Keuangan. Menempuh pendidikannya di sebuah sekolah tinggi dengan spesialisasi akuntansi, lalu menambah pengetahuan di bidang syariah dengan menempuh kembali pendidikan dengan jurusan Manajemen Perbankan Syariah. Gozali pernah bekerja di sebuah lembaga konsultasi manajemen. Setelah itu, ia meneruskan karirnya di sebuah instansi pemerintah yang banyak berkutat dalam bidang anggaran dan keuangan negara. Kecintaannya pada dunia keuangan membuatnya memutuskan untuk bergabung pada Safir Senduk & Rekan sejak tahun 2000, dan membangun Zelts Consulting di tahun 2011. Sampai saat ini, ia sudah banyak sekali berhadapan dengan ratusan kasus tentang keuangan keluarga, mulai dari yang paling sederhana hingga yang sangat kompleks. Ia juga banyak mempelajari dan memberikan konsultasi pada bidang keuangan syariah, mulai dari seluk beluk lembaga keuangan syariah, hingga kasus keuangan keluarga yang sifatnya Islami. Namun demikian, secara umum ia juga menghadapi kasus-kasus keuangan yang memang secara rutin datang padanya, seperti investasi, usaha kecil, pendidikan anak hingga masalah pensiun. Selain itu, Gozali juga mengasuh beberapa rubrik di sejumlah media dan menulis buku.
Program pelatihan persiapan pensiun, khususnya dalam bidang investasi dan kewirausahaan, menjadi bagian dari kesibukannya. Perusahaan yang mempercayakan program ini padanya diantaranya adalah Freeport Indonesia, United Tractors & Group, International Nickel Indonesia, Astra International, Bank Permata, Garuda Indonesia & Group, Newmont Nusa Tenggara, Semen Indonesia, Kimia Farma serta berbagai perusahaan berskala lokal dan internasional lainnya.
Program pelatihan persiapan pensiun, khususnya dalam bidang investasi dan kewirausahaan, menjadi bagian dari kesibukannya. Perusahaan yang mempercayakan program ini padanya diantaranya adalah Freeport Indonesia, United Tractors & Group, International Nickel Indonesia, Astra International, Bank Permata, Garuda Indonesia & Group, Newmont Nusa Tenggara, Semen Indonesia, Kimia Farma serta berbagai perusahaan berskala lokal dan internasional lainnya.
Ahmad Gozali :
Saya mulai dgn pertanyaan ya...
Jika saat ini juga kita kehilangan sumber penghasilan (PHK atau bangkrut), berapa lama kita bisa hidup normal?
Jika saat ini juga kita terpaksa dirawat di RS selama seminggu, apakah penghasilan ttp ada? Dan darimana biaya RS tsb dibayar?
Jika saat ini juga tetangga mau pinjam uang beberapa juta karena orangtuanya kecelakaan. Apakah kita bisa bantu dia?
Contoh di atas memang tidak sering terjadi. Tapi bukan tidak mungkin terjadi.
Pertanyaannya... Apakah kita bisa memitigasi risiko tadi jika terjadi?
Kita memang punya rencana terbaik, tapi kadangkala kita juga harus punya persiapan untuk kondisi terburuk.
Salah satu langkah manajemen risiko dalam Financial Planning adalah memiliki dana darurat atau dana cadangan.
Yaitu sejumlah dana yang kita alokasikan khusus utk antisipasi 2 hal:
1. Terhentinya sumber penghasilan kita
2. Pengeluaran yang mendesak/darurat
Kenapa kita perlu punya dana cadangan? Agar tidak terjebak pada hutang saat terjadi masalah keuangan di atas.
Berapa banyak dana cadangan yg diperlukan? 3-12x penghasilan bulanan.
Dalam bentuk apa dananya disimpan?
1. Tabungan
2. Deposito
3. Emas
Atau kombinasi dari ketiganya.
Momod : Bagaimana cara mengontrol penghasilan agar bisa disisihkan sebagai dana cadangan? Karena anak kalau pegang uang suka gatel ingin segera memblanjakanya. Bagaimana langkah2 yg harus ditempuh seandainya terjadi musibah disaat dana darurat kita belum terkumpul, let's say, untuk 3 bulan kedepan?
Ahmad Gozali : Tentu sangat tergantung dari kondisinya saat itu ya. Bisa dgn berhutang, jual aset, atau ada pengeluaran lain yang ditunda dulu.
Pandu : Pak Ahmad, kenapa harus Deposito? Kalau Reksadana gimana? Beberapa kali diskusi dengan orang finance, seringnya dikatakan reksadana itu lebih baik dari Deposito. Alasannya juga dijelaskan, tapi saya lebih tertarik pendapat Pak Ahmad bagaimana. Terimakasih
Ahmad Gozali : Kita perlu dana yg siap dipakai saat kondisi darurat. Kalau reksadana kan nilainya bisa turun. Dan risiko bisa terjadi tanpa peringatan terlebih dahulu. Jangan sampai terjadi pas reksadana sedang turun nilainya, pas terjadi kondisi darurat. Itulah kenapa reksadana tidak saya masukan sebagai dana darurat.
Momod : Oke, berarti melihat tingkat likuiditasnya jg ya Pak
Ahmad Gozali : Likuid & nilainya fixed. Itu syaratnya. Kalau reksadana Likuid tapi tdk Fixed.
T : Kalau butuh darurat saat itu, deposito kan ga bisa diambil sewaktu2 bukannya pak? ada kontraknya, dan kalau dipercepat jadi penalti?
Ahmad Gozali : Penalti sekitar 1%-3%, dlm kondisi darurat penalti segitu gapapa lah.
T : di bank syariah tempat sy nabung 4%.
Ahmad Gozali : Bank syariah seharusnya tdk ada penalti. Yg ada adlh biaya yg Fixed.
Okki : Jika saya ingin menabung, tapi saya punya bisnis, dan saya ingin menyisihkan uang saya buat org tua. Apakah perlu membuat tabungan hingga 4 rekening dg tambahan 1 rek utk operasional sehari2 dan untuk dana darurat? Bagaimana membagi hal hal tersebut menjadi prioritas utama. Apakah dana darurat kita prioritaskan yg paling akhir?
Ahmad Gozali : Teorinya, dana cadangan itu duluan. Karena tanpa dana cadangan, rencana yg lain bisa hancur berantakan. Tapi prakteknya, bisa juga kok bareng dgn yg lain. Asalkan jangan ditunda. Misalnya tiap bulan ttp diisi rekening daruratnya RpX. Kirim ke ortu RpY, dst. Rekeningnya sama atau beda tergantung seberapa disiplin kita bisa ttp pisahkan alokasinya. Kalau rekening darurat harus dipisah, krn selalu ada.
Jika saya ingin menabung, tapi saya punya bisnis << Saya gak faham maksud kalimat tsb. Emang kenapa kalau punya bisnis? Apa hubungannya dgn ingin menabung?
T : Berarti memang seharusnya memang harus dibedakan rekeningnya ya pak. Dan prioritas tetap pada dana darurat ini.
Ahmad Gozali : Khusus dana darurat, dibedakan rekeningnya. Yg lainnya terserah.
T : Itu maksudnya lebih membedakan rekening pak termasuk bisnis, dana darurat. Berarti memang saya harus bikin tambahan rekening lagi.
Agung : Apa dasarnya dana cadangan harus 3-12x gaji bulanan Pak?
Ahmad Gozali : Kalau risiko pengeluaran, ada sebagian yg bisa dialihkan ke asuransi. Ada yg harus ditanggung sendiri. Tapi khusus risiko penghasilan, itu ditanggung sendiri. Nah, kalau kehilangan pekerjaan, perlu waktu berapa lama sampai dpt penghasilan/pekerjaan lain? Rata-rata sekitar 3 bulan lah. Itulah sebabnya dana cadangan minimal itu 3x gaji. Kalau pengusaha bangkrut, perlu berapa lama sampai bisnisnya bangkit lagi? Pasti lbh lama. Ya kira-kira setahun lah sampai stabil lagi.
Henny : Pak, bagaimana dengan asuransi jiwa dan kesehatan syariah? Apakah itu termasuk dana cadangan? Memang tidak bisa menjadi cadangan ketika tdk punya pekerjaan tapi ketika tiba2 harus rawat inap di RS itu dapat membantu. Atau ketika pencari nafkah utama tidak ada, ada uang pertanggungan dari asuransi yg dapat digunakan untuk beberapa bulan sebelum mendapatkan penghasilan sendiri.
Ahmad Gozali : Asuransi termasuk langkah antisipasi risiko, sama seperti dana darurat. Tapi keduanya perlu karena fungsinya berbeda. Banyak risiko yg tdk bisa ditanggung asuransi. Itulah makanya ttp perlu dana cadangan juga selain asuransi. Sakit emang bisa pakai asuransi. Tapi biaya non-medis utk yg nungguin, kehilangan penghasilan krn gak kerja, dll itu diambil dari dana cadangan. Dan masih banyak hal lain yg tdk ditanggung asuransi.
Dhimas : Dalam posisi terhimpit, mana yg jadi prioritas, pinjam uang ke teman, keluarga, bank, BMT? Atau jual aset? Mohon dijelaskan sesuai dgn skala prioritasnya. Tks
Ahmad Gozali : Sangat tergantung situasinya ya. Terutama urgensinya & nilainya. Kalau phk, ya jangan pinjam bank/BMT. Kalau sakit, msh bisa pinjam, tapi gak bisa jual aset. Pinjem ke ortu tentu lbh baik daripada pinjem ke temen.
T : Terkait aset, baiknya dana cadangan itu dlm bntuk fresh money (misal disimpan di brankas), di tabung di bank (atm), atau dijadikan inventaris (beli tanah/emas) ,ya pak ?
Ahmad Gozali : Tabungan, deposito, emas. Itu oke. Cash juga oke sih, tapi jangan banyak2 lah. Tanah gak banget lah. Kelamaan atuh jualnya. Perlu dibedakan ya... Investasi dengan dana darurat. Fungsinya beda, maka produknya juga beda. Dana darurat, jangan diinvestasikan. Investasi, jangan dianggap sebagai dana darurat.
Iskandar : Dalam bentuk apa dananya disimpan?
1. Tabungan
2. Deposito
3. Emas
Atau kombinasi dari ketiganya. ^>reksadana pasar uang gak termasuk? karena yg saya tangkap tadi maksudnya itu reksadana saham (high risk dan fluktuatif)
1. Tabungan
2. Deposito
3. Emas
Atau kombinasi dari ketiganya. ^>reksadana pasar uang gak termasuk? karena yg saya tangkap tadi maksudnya itu reksadana saham (high risk dan fluktuatif)
Ahmad Gozali : Memang FP lain menyarankan RDPU sbg dana darurat, tapi saya sih kurang rekomen. Likuiditasnya 4-7 hari. Silakan dinilai sendiri kira2 oke nggak utk kondisi darurat. Selain itu, blm tersedia RDPU syariah. RDPU syariah utk ritel blm ada.
Clossing statement
Ahmad Gozali :Prepare for the best.
Ready for the worst.
No comments:
Post a Comment