❤ Menata Hati (◡‿◡✿)

“Selamat Datang di Grup Penting++ Forum Indonesia Muda~”
<grup yang mendiskusikan bahasan seputar parenting>

Berikut profil singkat Narasumber kita >>
Nazrul Anwar penulis yang biasa menulis hal sederhana dalam keseharian. Ayah dari satu orang anak ini telah menghasilkan tiga buah buku. Dan Menata Hati adalah buku ketiga yang ditulisnya, setelah Letters to Karel dan Genap yang sukses dipasarkan secara online di media sosial dan self publishing Adnara. Serial yang ditulis beliau baik fiksi maupun nonfiksi banyak mendapatkan tanggapan positif dari para pembacanya.

Start >>
Momot : Kita buka dengan awalan.. apa sebenarnya yang menggerakkan kakak berbagi kisah melalui Menata Hati?
Nazrul Anwar : Ok, cerita sedikit latar belakang menata hati ya....

★ MENATA HATI ★
Jadi sebenernya, Menata Hati itu adalah kumpulan tulisan waktu masa transisi tingkat akhir ke dunia pasca kampus. Jadi, well, ditulis pada masa-masa labil dan galau selayaknya mahasiswa fase transisi pada umumnya. Hehe. Jadi tema yang ditulis tentang jodoh, pekerjaan, organisasi, dan hal-hal yang yang berkaitan dengan itu, tapi dipackage dalam bentuk cerita biar lebih gampang dicerna. Menata hati ditulis sebelum Genap (buku ke-2)  maupun Letters to Karel (buku ke-1). Tapi diterbitkan setelah kedua buku itu, tentu dengan proses editing yang lumayan. Karena harus mengubah gaya bahasa agar terkesan nggak labil-labil amat :D.
Buku menata hati ini sebenernya fiksi, tapi banyak contents yang di dalamnya diambil dari pengalaman sendiri atau orang-orang sekitar. Beberapa bab-bab awal misalnya, lumayan banyak menggambarkan tentang pengalaman waktu di organisasi mahasiswa; misalnya cuplikan :
“Kita dipayungi kebersamaan yang sama, tapi kita sama-sama dihujani prasangka.”
Kalimat itu menggambarkan budaya organisasi yang sering nge-judge tanpa konfirmasi terlebih dulu. Atau kutipan :
“Kita hanya sedang mencinta dengan cara yang berbeda. Aku dengan caraku. Kamu dengan caramu. Tapi masih sama-sama cinta.”
Kalimat dia atas juga menggambarkan tentang kondisi dalam organisasi yang belum bisa menghargai, saat ada perbedaan pendapat atau cara. Padahal mah, maksudnya sama-sama baik.

Bagian pekerjaan emang porsinya agak sedikit sih daripada yang lain. Paling banyak tentang menemukan pekerjaan yang nyaman, sesuai passion, dan gimana menikmati pekerjaan. Salah satu kutipan dialognya berusaha mewakili almamater kampus (IPB) dulu. Hehe

“Emang salah ya, kalau misalkan kita kerja enggak sesuai dengan bidang yang kita dalami ketika kuliah?”

"Hmm. Mama juga dulu kuliahnya di jurusan apa, sekarang kerjanya di bidang apa. Enggak nyambung. Tapi kalau memang itu adalah sebuah kesalahan, mama minta maaf atas kesalahan yang mama buat. Yang pasti, sekarang mama bahagia dengan pilihan mama, menikmati apa yang mama kerjakan, dan seneng karena pekerjaan mama bisa memberikan banyak manfaat ke orang lain. Dan buat mama, itu sudah lebih dari sekedar cukup. Dulu emang suka kesel sih, kalau ada yang nyindir kok kerjaan mama enggak sesuai dengan bidangnya sih? Kok begini sih? Kok begitu sih?”

“Terus, dulu cara menghadapinya gimana?”

“Dengan menerima, Sayang. Bukan dengan mencari pembenaran dengan banyak alasan. Menerima, kalau apa yang mereka katakan ada benarnya. Benar juga kan, ngapain mendalami suatu ilmu bertahun-tahun, tapi setelah lulus ilmunya enggak digunakan? Menerima, kalau mama juga ada salahnya. Masa, bertahun-tahun enggak bisa suka juga dengan apa yang mama pelajari? Menerima, kalau Allah selalu punya rencana dan ketetapan yang terbaik untuk kehidupan kita. Walaupun kadangkala ketetapan itu adalah apa yang bukan kita inginkan dan kita rencanakan. Menerima bahwa ternyata; kebahagiaan, ketentraman, ketenangan hati, jauh lebih berharga dari sekedar kesesuaian antara pekerjaan dan jurusan ketika kuliah, apalagi dari sekedar sindiran orang lain.”

Nah, kalau bagian pernikahan emang unik sih, dan paling banyak dieditnya. Karena waktu nulis itu belum nikah. Tapi yang menantang adalah buat cerita tentang cinta-cintaan yang nggak biasa dan gimana caranya nggak terkesan norak.

Intinya sih, kalau diambil garis besarnya, isi buku menata hati itu tentang bagaimana belajar merasa dengan logis, tentang bagaimana menghadapi harapan yang nggak sesuai dengan realitas, tentang mengkondisikan hati dari hal2 yang pahit dan menyakitkan….

Momot : Siiip kak.. nah dari perspektif menata hati yang demikian luas, sebenarnya apa makna menata hati menurut kakak?
Nazrul Anwar : Bisa menempatkan diri, kapan perasaan yang perlu mendominasi. Kapan logika yang harus mendominasi... Walaupun nggak bisa disamaratakan kali ya, karena kadarnya masing2 buat setiap orang. Tapi setidaknya kita bisa nyaman sama diri kita sendiri, tanpa terbebani, tanpa merasa bersalah, tanpa merasa terpaksa... Menata Hati sendiri sebenernya judul salah satu bab di bukunya yang sepertinya mewakili keseluruhan isi buku. Mungkin biar lebih kebayang, dicopaste ke konteks kalimat di bukunya kali ya.... 
“Sesulit apapun itu, menyembuhkan luka di hati sendiri, jauh lebih mudah daripada menyembuhkan luka di hati orang lain. Apalagi, jika kitalah yang menyebabkan luka itu. Jadi daripada mereka yang tersakiti karena perlakuan kita, biarlah kita yang mengalah untuk mencoba memahami mereka, walaupun mungkin itu akan sedikit menyakiti kita. Tapi setidaknya, kita punya kuasa atas hati kita sendiri. Kita bisa menata hati kita, menyembuhkannya perlahan-lahan, sampai di titik tertentu, hati kita tidak sakit lagi oleh luka yang sama. Sampai hati kita lebih kuat dan lebih tulus lagi dalam menyikapi hidup. Dan semua itu tak bisa kita lakukan pada hatinya orang lain.”
Momot : Terimakasih kak untuk ulasan penuh maknanya. Dan rasanya sesuatu yg disampaikan dari hati, butuh hati pula untuk mengambil maknanya....

T : Kak.. aku mau nanya.. hati dan akal susah loch bersatu. blum tntu apa yng di inginkan hati tdak sesuai apa yang di maui akal.. gimana kita harus melangkah dengan mensejajarkan antara akal dan perasaan..?
Nazrul Anwar: Kebetulan ada di kutipan bukunya.. "Hati tak perlu memilih, hati selalu tahu apa yang harus dirasa. Terlepas dari benar atau salah perasaan itu. Kalau kamu suka, rasai saja. Tak perlu berpaling dari perasaan sendiri. Kalau kamu benci, rasai saja. Tak perlu berpura-pura untuk menyukai apa yang kamu benci. Apalagi memaksa menyukai apa yang sebenarnya tidak kamu suka. Memaksa hanya akan membuat hati kamu semakin luka. Termasuk memaksa untuk melupakannya. Jadi kalau hati kamu bilang ingin mengingatnya, ingat saja tentangnya."
T : "Jadi, tak masalah kalaupun perasaan itu salah?"
Nazrul Anwar: "Hati tak pernah tahu apa yang dirasanya itu benar atau salah. Karena hati diciptakan untuk merasa, bukan untuk berfikir tentang benar atau salah. Hati hanya bisa jujur, jujur terhadap apa yang dirasanya. Walaupun itu salah, walaupun itu bertentangan dengan kaidah baik-buruk sunatullah yang sudah dipaketkan Tuhan untuk dikenal oleh hati nurani. Hati tidak bisa berbohong. Tapi hati sangat bisa untuk salah. That`s why, selain menciptakan hati, Tuhan juga memberikan akal untuk berfikir, untuk mempertimbangkan baik-buruknya, untuk menentukan benar-salahnya. Gunakan juga itu, Dear. Jangan hanya menggunakan hati saja."
T : "Jadi, aku harus gimana?"
Nazrul Anwar: "Rasakan saja apa yang harus dirasakan. Rasakan saja apa yang ingin hatimu rasakan. Entah itu suka, benci, atau mungkin rindu. Dengan begitu semoga hatimu menjadi lega. Tapi sebelum melampiaskan perasaan kamu, sebelum mengungkapkannya, sebelum mengekspresikannya, jangan lupa gunakan akal kamu untuk berfikir tentang cara yang baik dan benar bagaimana melampiaskannya. Gunakan akal kamu untuk menata hati kamu, agar bisa meluruskan perasaan yang salah, atau perasaan yang tidak pada tempatnya. Dan ingatlah, hati kita tak pernah netral. Hati selalu punya kecenderungan. Hati selalu memiliki prasangka. Itulah kenapa kita harus mendekat padaNya. Agar kecenderungan kita mendekati petunjukNya, agar parasangka kita adalah khusnudzon.”
T : Aku pernah dengar dari teman. Obat sakit hati itu adalah hati. hati pula yang bisa membuat ketentraman hati. apakah itu betul kak..?
Nazrul Anwar: Kalau secara tekstual bener, yang diobati ya yang sakit. Kalau yang sakit hati, yang perlu diobati berarti hati. Biasanya kalau secara humanis atau sosial, kalau kita lagi sakit, yang bisa menenangkan adalah orang lain yang punya hati bersih. Kalau secara agama, diajarkan yang bikin hati tentram itu kalau kita mengingat-Nya.. tentu caranya sesuai dengan ajaran agama masing2...
Momod : Jadi ingat sepotong ayat.. "Maka dengan mengingat-Ku, hati menjadi tenang"

Momod : Pembukaanya sangat mengena. Yup, ttg pekerjaan, itu realitas yg saya hadapi. Dan sampai sekarang trkadang msh ada kegamangan dsana. Antara mrasa brsalah thd ortu n brjuang utk brtahan dg apa yg saat ini bisa saya jalani. Tentu saja tnpa mnutup mata thd ksempatan utk kmbali k bidang awal. Meski gatau sampai kapan. Bila qta trlanjur mlukai perasaan org lain (dlm konteks ini ortu), umumnya qta juga akan trluka. Prtanyaannya, bagaimana cara brdamai dg diri sendiri n menebus prasaan brsalah thd ortu?
Nazrul Anwar: Kerjaan yang paling enak itu biasaanya yang paling sesuai dengn passion kita dengan yang paling kita senangi, terlebih lagi jika itu bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Pada akhirnya bukan tentang apa yang kita kerjakan. Tapi tentang seberapa bahagia kita mengerjakan itu.
Nazrul Anwar: Sebelum berdamai dengan orang lain, ada baiknya berdamai dengan diri sendiri dulu kali ya. Menerima kekurangan dan kesalahan diri, terus memperbaikinya. Percayalah, pada dasarnya orangtua sebenernya nggak nuntut apa2 dari anaknya, selain untuk kebahagian dan kebaikan anaknya. Tunjuki aja kalau kita udah berubah, kalau kita menyadari, kalau kita bahagia dengan pilihan kita sekarang. Insya Allah perlahan mereka akan ngerti.....
Momod : Karena diri sendiri memang harus yang pertama kita taklukkan ya kak
Nazrul Anwar : Yups.. banyak orang yang merasa bermasalah dengan orang lain, tapi lupa ngaca ke diri sendiri.
T : Apa yang bisa dilakukan agar terus bisa 'menerima' sesulit apapun keadaannya dan masih bisa berpikir logis dibandingkan terbawa perasaan ?
Nazrul Anwar: Hmm, logis itu kadang perlu dilatih kali ya. Karena biasanya, apalagi perempuan, kalau ada apa-apa yang keluar perasaannya dulu. :). Tapi coba deh berfikir rasional, biasanya perasaan itu sifatnya sementara. Hari ini kita ngerasain bahagia, besok udah sedih lagi. Begitu seterusnya. Atau kalau mau latihan, kalau kita biasanya merespon dengan perasaan daripada logika, coba di keep dulu responnya. Jangan ditunjukin dulu, sambil mikir dan nanya sama diri sendiri; ini bener nggak sih kalau saya kayak gini? Atau nambahin dari kutipan buku menata hati :
Mari belajar merasa dengan logis. Kebersamaan ini harus kita lalui dengan hati dan pikiran yang menyerta. Agar tidak terlalu melankolis, tapi tetap bisa dinikmati dengan berbagai rasa. Agar bisa realistis tanpa kehilangan makna. Agar aku dan kamu bisa menjadi manusia normal dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing. Bukan sok suci dengan kebenarannya masing-masing.
Momod : Merasa dengan logis ~ jadi titik temu rasa dan fikir... Naah jadi penasaran mengkhatamkan lembaran di buku Menata Hati

T : Dalam menjaga hati Hal dasar apa yang harus kita miliki ?
Nazrul Anwar: Tergantung konteksnya kali ya. Tapi klo ngomongin dasar, biasanya ngomongin prinsip hidup. Misalnya, hubungan laki2 dan perempuan yang belum menikah dan bukan mahrom, ada teman2 yang punya prinsip nggak boleh bersentuhan, nggak boleh berkhalwat, dsb. Nah itu dasarnya. Konsep menata hatinya berarti gimana biar nggak melanggar hal2 yang dasar tadi. Atau dalam konteks lain misalnya, dalam agama tidak boleh dengki. Nah, gimana caranya kita bisa menjaga hati biar nggak dengki sama teman2 kita yang jauh lebih sukses atau lebih hebat...
T : Klu mnjwb dri ulasan kk td. Saya menyimpuljan seorang "sufi" lah yg mampu menata hati. Karena hal dasar dalam menata hati terletak pada kepekaan dirinya trhdp lingkungan sekitarnya. Pembhsn nya lbh k eksternal ane rasa. Seseorang bisa menata hati dia jikalau dia mampu peka terhadap isi hati org lain. Ane tdk mnyebut mengetahui isi hati krn hny si pemilik hati dan Tuhan sajalah yg mengetahui isi hati. Wallahu a'lam.
Nazrul Anwar : Hmm, kurang paham juga dengan konsep sufi yang dimaksud. Tapi IMHO, menata hati itu hak dan kewajiban setiap orang kali ya. Bukan golongan tertentu. Bukan untuk orang lain, tapi untuk ketenangan dan kebahagian sendiri.. Ane tdk mnyebut mengetahui isi hati krn hny si pemilik hati dan Tuhan sajalah yg mengetahui isi hati. Wallahu a'lam --> setuju.
Momod : Benang merahnya, karena setiap kita punya hati, maka hak dan kewajiban kita menjaganya. Seperti menjaga setiap hal yang dititipkan. Seperti merawat setiap hal yang kita miliki.

T : Kalau konsep nya benar kepekaan hal dasar dlm menata hati. Lalu bgmn membangun kepekaan itu ? Bukankah jawabannya ada pada aktivitas seseorang yg dlm kesehariaannya atau aktivitasnya seperti yg kita sebut sebgai sufi ?
Nazrul Anwar : Yup peka itu perlu latihan, selain bersosialisasi dengan orang lain, salah satu yang bisa menimbulkan kepekaan adalah 'iqro' atau membaca kali ya. Membaca kondisi sekitar, membaca pengalaman orang lain... dst..
T : Bagaimana jika berbohong untuk kebaikan? Misalnya agar orang yang kita sayang tidak kecewa. Apakah itu bisa disebut dengan menata hati dengan baik?
Nazrul Anwar : Agak subjektif kalau ngomongin kebohongan untuk kebaikan. Coba ngutip potongan buku GENAP ya.. Aku percaya, bahwa ada kebohongan yang masih layak untuk dimaafkan, bahkan sangat layak untuk dihargai; kebohongan yang tidak menyakiti. Berdosakah? Ah, Tuhan lebih layak untuk menghakimi daripada kita yang banyak alpa. Tapi katamu, kalaupun memang itu salah, kalaupun jatuhnya dosa, semoga pahala dari niat baik untuk menjaga dan menghargai perasaan orang lain, lebih dari cukup untuk mengimbangi dosa kecil karena jenis kebohongan seperti itu; kebohongan karena terpaksa atau bohong karena darurat. Daripada harus jujur, lantas urusan jadi panjang karena sakit hati dan turunannya. Tentu saja yang namanya darurat itu sesekali, bukan setiap kali. Dan setiap orang punya kebijakan untuk menentukan kapan dan pada saat apa saja sesekali itu.
T : Jika kebohongan sudah diketahui tp orang itu tetep kekeuh bagaimana? Apakah yg dibohongi tsb. Harus benar menata hati lg bahwa kebohongan itu maksudnya baik untuk dia?
Nazrul Anwar : Sometimes, dalam banyak hal, yang menentukan baik apa enggak itu bukan hanya kita. Tapi orang lain juga. Kadang yang baik buat kita, belum tentu baik buat orang lain, karena ukuran dan standard baik setiap orang itu beda-beda. Makanya tadi di atas dibilang subjektif. Jadi balik lagi ke diri kita, bukan ke orang lain. Kalau kita sebagai yang dibohongi, emang baiknya mikir gitu. Itu demi kebaikan kita. Kalau kita sebagai orang yang dibohongi, sebaiknya berfikir dulu sebelum bohong, Apa kalau dia tahu nanti alsannya bisa diterima? Apa kebohongan ini benar2 untuk kebaikan dia, atau hanya ketakutan kita saja?
T : Saat ini sy masih kuliah, tapi sudah kerja di instansi pendidikan tempat saya sekolah dulu sbg guru pengganti, dg jadwal mengajar seminggu sekali. MoU di awal dg pihak sekolah bahwa saya harus mengutamakan mengajar tiap hari sabtu, dan berhubung saya masih semester 6 maka banyak kegiatan kampus/program studi shg saya mengajukan ijin bila benar2 terpaksa dan itupun disepakati oleh sekolah. Ketika saya ijin tidak masuk mengajar, saya sudah ijin, tetapi ada beberapa oknum guru (dulu juga mengajar saya) selalu sinis dan menggunjing di belakang, padahal saya melihat beliau selalu bersikap baik. Terkadang saya tidak kuat dengan itu dan akhirnya nyesek sendiri dan pengen resign karena tidak nyaman dengan kondisi tersebut. Bagaimana saya harus memulai lagi kepercayaan diri saya saat di sekolah? Terimakasih.
Nazrul Anwar: Kalau izinnya sesuai dengan prosedur, dan alasannya memang benar-benar bisa diterima sekolah, It's okey, lanjutin aja, gpp. Kalau dengerin kata orang mah, nggak ada habis2nya. Tapi di sisi lain, coba evaluasi diri juga, normal nggak sih izinnya? Apa kebanyakan daripada guru yang lain? Dzolim nggak sih sama siswa atau sekolahnya? Bertanggungjawab nggak sih? Kalau setelah evaluasi diri, jatuhnya emang kurang profesional, well, coba dibuat lagi prioritas hidupnya. Terkadang melepaskan jauh lebih melegakan daripada mempertahankan.. :)
T : Terimakasih kak Nazrul atas pengingatannya, memang mungkin perlu disetting lagi tentang komitmen ya. In syaa Allah nanti dicoba lagi. Saya tipe orang pemikir banget, jadi emang bener2 nyesek ketika melihat realita partner kerja di sekolah yg ternyata seperti itu, tapi ini buat PR juga seperti yg udah kakak jelasin di awal tadi.

Momod : Seorang teman pernah berkata, Saat kita tak menemukan masalah, bisa jadi kita yang bermasalah. Semoga gundah adalah awal kita berbenah.

T : 1. Bagaimana ttg posisi wanita dan suami yang bekerja ketika sudah punya anak. Lebih baiknya kan wanita menjadi pengajar penuh untuk anaknya, ayah mencari nafkah sambil mendidik juga. Tapi gimana kalau dua2nya bekerja,dilihat dr sudut pandang lain. 2. Tentang mendidik anak, bagaimana cara mengenalkan anak ke Allah sedari kecil. Berkaitan dengan keadaan dunia yang makin "mencekam" membayangkan anak kita akan tumbuh dengan kondisi yang banyak "ketidaksesuaian".
Nazrul Anwar: 1. ibu atau isteri itu tentang peran dan tanggungjawab kali ya, bukan tentang bekerja atau tidak. Jadi nggak masalah mau bekerja apa nggak, yang penting peran dan tangungjawabnya sebagai isteri dan ibu bisa terlaksana dengan baik. :) 2. Anak butuh referensi dan referensi terdekat mereka adalah orangtua. Jadi cara terbaik mendidik anak adalah dengan keteladanan. Tambahannya banyak anak yang didik oleh orangtuanya dengan apa adanya. Maksudnya orangtua tidak punya program dan visi yang jelas anaknya akan menjadi anak yang seperti apa (karakter, akhlak). Lebih bagus kalau orangtua punya visi juga untuk anak2nya sebelum aqil baligh, sebelum anak2 punya visi dan tujuan hidupnya sendiri.
Momod : Act speaks louder than words..  keteladanan memang yg utamaa

T : Mas Nazrul.. Apa yg dilakukan agar kita bisa mengatasi kekecewaan orangtua terhadap kita, krn kita tidak bisa mewujudkan harapan nya. Padahal kita adalah org yg sangat diharapkan ortu, dibangga2kan. Mengatasi kekecewaan trhdp ortu tntu beda dg mengatasi kekecewaan org lain.
Nazrul Anwar : Orangtua kita selalu ingin yang terbaik buat anaknya. Tapi apa yang menurut orangtua kita baik itu, tidak selalu baik juga buat kita. Nah biasanya disini gap-nya. Timbul kecewa karena standard kita, apa yang menjadi kesuksesan dan kebaikan kita berbeda dengan orangtua. Makanya orangtua jadi kecewa karena kita nggak seseuai dengan harapan mereka. Kita juga mungkin akan kecewa karena orangtua nggak ngerti apa maunya kita. Sebagian besar permasalahan emang biasanya disebabkan oleh persepsi yang beda. Nah, persepsi yang beda tentang standard dan harapan ini yang harus disamakan, minimal dikompromikan. Coba ngobrol lebih dalam lagi dengan ortunya. Dengerin dulu semua keinginan dan harapan mereka. Dengerin aja, nggak usah bantah walaupun nggak sesuai. Kalau udah selesai, giliran kita yang sharing tentang tujuan hidup kita, tentang kita maunya apa, tentang kita pinginnya begitu. Yakinkan mereka kalau kita bisa berhasil dan sukses dengan cara kita sendiri, dengan jalan yang kita ambil, dengan keputusan yang kita pilih. Buktikan kepada mereka dengan prestasi, dengan tetap menghargai dan berbakti dengan cara yang kita bisa, walaupun cara dan standard tadi berbeda. Emang nggak gampang sih, sulit. Tapi impian kita dan kebanggaan orangtua adalah dua hal yang selalu layak untuk diperjuangkan kan, ya? :)
T : Bagaimana memanage hati ketika lahir dan batin rindu dan sangat ingin menikah? Trimakasih
Nazrul Anwar : Kalau pendekatannya agama, hukum nikah itu kan bermacam-macam ya, ada yang sunnah, wajib, haram, dst. Kurang ngerti juga apakah rindu lahir dan batin itu sudah masuk katagori 'wajib' untuk menjaga diri agar tidak terjerumus pada hal2 yang dosa, atau sebnernya kamu masih bisa menahan dan menjaga sehingga hukumnya sunnah. Tapi kalau kondisi yang pertama, prioritasnya adalah menjaga diri, jangan terlalu pilah-pilih calon atau pasang kriteria yang tinggi. Selama agamanya baik, orangnya bertanggungjwab, layak untuk dicoba proses. Kalau kondisinya yang kedua, well, setiap orang punya waktu terbaiknya masing-masing kan, ya? Waktu dimana  kondisinya sudah siap, dimana saatnya sudah tepat. Cukup mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Dan salah satu cara terbaik mempersiapkan diri dalam hal ini adalah dengan memperbaiki diri. Semoga yang terbaik, segera datang untuk menggenapkan. :)
T : Saya mau bertanya, Hati adalah pondasi inti dari individual, baik hatinya baik perilakunya, nyaman hatinya, bahagia hari-harinya, begitu sebaliknya.. Pertanyaannya, apakah pengakit hati itu hanya berhadapan dengan hal buruk saja? apakah ketika seorang bahagia hatinya,tapi karena nafsunya,disebut penyakit hati? Dan bagaimana kita tahu hati kita sakit...? Dan saat ini saya berada dalam keadaan fimsick sekli setelah pelatihan,dan batin saya masih belum mantap pulang ke padang, apakah itu sakit hati?
Nazrul Anwar :
* Menata hati itu nggak harus pas kita sakit atau sedih kali ya. Pas kita bahagia banget karena punya prestasi tertentu, kita juga harus tetep menata hati biar nggak sombong. Semuanya ada konteksnya, nggak bisa dipukul rata.
* Gimana cara tahunya penyakit hati? Kalau kita ngerasa hati kita lebih keruh, lebih kosong, lebih hampa, lebih nggak nyaman dari biasanya. Mungkin harus ada yang kita perbaiki di hati kita.
* FIMsick, kurang ngerti juga rasanya gimana. Belum berkesempatan ikutan FIM soalnya. Hehe. Tapi biasanya organisasi yang baik, yang punya visi besar, bisa mengikat komunitas anggota bukan hanya secara emosional tapi juga secara esensi. Temen2 FIM tentu saja dikumpulkan dalam sebuah forum bukan hanya untuk saling ketemu, membangun hubungan emosional, persaudaraan, jaringan, ketemu orang2 yang sevisi, nymabung, nyman, dll. Itu semua mungkin packaging-nya saja. Tapi esensinya adalah karya besar, kolaborasi, prestasi. Jadi kalau rindu dengan FIM, kenapa rindunya nggak disembuhin dengan prestasi dan karya-karya?
T : Kak, bagaimana mengekspresikan isi hati bagi orang yg introvert. Beberapa literatur menyebutkan bahwa orang introvert yg tidak bisa mengekspresikan isi hati dan pikirannya memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap penyakit.
Nazrul Anwar : Kalau suka nulis, bisa dengan menulis, baik dalam bentuk cerita, essay, lagu, dll. Emang pada dsarnya, setiap orang butuh ruang untuk mengekspresikan perasaannya. Nah, orang introvert biasanya paling males mengekspos perasaannya. Makanya butuh cara yang dia nyaman untuk mengeskpresikan itu..
Nazrul Anwar :
Closing: Hati adalah salah satu hal paling berharga yang kita punya. Semoga kita bisa menjaganya dengan baik.

No comments:

Post a Comment

Instagram