>> Virtual Talks <<
Kolaborasi FIM CLUB PEOPLE ORGANIZATION DEVELOPMENT dan TITIK BALIK
Bahasan >> Sukses dengan Mentoring
Apakah FIM itu?
Forum Indonesia Muda (FIM) merupakan sebuah Forum Independen yang menyatukan para pemuda dengan latar belakang berbeda dari berbagai daerah di Indonesia. Saat ini sudah ada 18 angkatan dan ribuan (2000++) alumni yang tersebar seluruh daerah di Indonesia bahkan dunia. Buat yang penasaran bisa banget nih kepoin FIM di medsosnya >> Instagram : @fimnews. Website : forumindonesiamuda.org
Forum Indonesia Muda (FIM) merupakan sebuah Forum Independen yang menyatukan para pemuda dengan latar belakang berbeda dari berbagai daerah di Indonesia. Saat ini sudah ada 18 angkatan dan ribuan (2000++) alumni yang tersebar seluruh daerah di Indonesia bahkan dunia. Buat yang penasaran bisa banget nih kepoin FIM di medsosnya >> Instagram : @fimnews. Website : forumindonesiamuda.org
Apakah Titik Balik itu?
Titik Balik perannya sebagai support-nya virtual talk FIM Club People Organization Development ini. Kami basically adalah gerakan sosial yang berfokus memudahkan orang dalam mengembangkan dirinya di bidang softskill. Saat ini, kami udah bikin berbagai inisiatif. Diantaranya tulisan-tulisan tentang pengembangan diri, tanya jawab online, diskusi online (virtual talk), dan saat ini lagi persiapan training offline PIONIR MUDA UI, sebuah pelatihan untuk 30 mahasiswa baru UI terpilih agar mereka bisa menjadi mahasiswa yang seimbang. Titik Balik ini didirikan oleh 3 lulusan SMA Negeri 8 Jakarta yang saat ini sedang menjalani studi di UI. Satu dari sistem informasi, fakultas ilmu komputer dan dari fakultas kedokteran UI. Jika temen-temen ada yang mau nanya-nanya, atau tertarik kolaborasi atau mungkin butuh bantuan nyari pembicara buat acaranya? Bisa kontak kami lewat akun line@ kami :)
Titik Balik perannya sebagai support-nya virtual talk FIM Club People Organization Development ini. Kami basically adalah gerakan sosial yang berfokus memudahkan orang dalam mengembangkan dirinya di bidang softskill. Saat ini, kami udah bikin berbagai inisiatif. Diantaranya tulisan-tulisan tentang pengembangan diri, tanya jawab online, diskusi online (virtual talk), dan saat ini lagi persiapan training offline PIONIR MUDA UI, sebuah pelatihan untuk 30 mahasiswa baru UI terpilih agar mereka bisa menjadi mahasiswa yang seimbang. Titik Balik ini didirikan oleh 3 lulusan SMA Negeri 8 Jakarta yang saat ini sedang menjalani studi di UI. Satu dari sistem informasi, fakultas ilmu komputer dan dari fakultas kedokteran UI. Jika temen-temen ada yang mau nanya-nanya, atau tertarik kolaborasi atau mungkin butuh bantuan nyari pembicara buat acaranya? Bisa kontak kami lewat akun line@ kami :)
Mari langsung saja kita mulai diskusi online nya~
Momod : FAKTANYA !! Soekarno, Tan Malaka, Semaoen, Agus Salim, Kartosoewiryo, mereka menjadikan Tjokroaminoto sebagai mentor. Begitu juga Steve Jobs menjadikan Hawlett dan Packard (pendiri Hawlett & Packard) sebagai mentornya. Lalu, seberapa pentingkah kita memiliki mentor dalam membantu mewujudkan impian kita? Dan untuk menjawabnya, malam ini akan ada seorang pemateri yang akan berbagi pengalaman perihal urgensi seorang mentor.
Beliau merupakan official trainer dan coach dari NFNLP Florida, USA. Associate Certified Coach(ACC) dari International Coach Federation (ICF), President of Bandung Chapter : Komunitas Sukses Mulia, Konsultan di Trainindo Media Eduka, dan Co-Owner Ganesha Public Speaking.
Siapakah dia? Langsung saja kita sambut Mas Surya Kresnanda!
Kak Surya : Perkenalkan, saya Surya Kresnanda. Asli Surabaya, tinggal di Bandung.
Momod : Sebelum memulai ke sesi sharing, untuk pertanyaan pembuka. Mau tanya nih, sekarang kesibukan Mas Surya apa?
Kak Surya : Saya dosen di salah satu kampus swasta di Bandung. Saya konsultan learning management, kerja di sebuah konsultan di Bandung. Juga pebisnis. Sekarang bisnis kursus public speaking, juga di Bandung. Saya kerja di Konsultan, Trainindo Media Eduka. Juga Co-Owner Ganesha Public Sepaking.
Momod : Oke mas, langsung aja seperti tema bahasan diskusi malam ini. Mungkin peserta disini termasuk momod pernah mengamati atau membaca biografi orang-orang sukses dan berpengaruh di lingkungannya, ternyata dibalik kesuksesannya ada seseorang yang memiliki peran yang dijadikan mereka sebagai panutan, motivator yang membimbing mereka untuk menjadi orang-orang hebat terlepas dari peran keluarga dan teman yaitu seorang Mentor. Nah, menurut mas sendiri seberapa pentingkah seorang memiliki mentor bagi kehidupan kita? Bagaimana cara memilih?
Kak Surya : Seberapa penting memiliki Mentor? Nggak penting sih, kecuali kalo suksesnya mau lebih cepat dan terarah hahaha. Seringkali kita merasa heroik, merasa bisa mencapai kesuksesan hidup dan karir kita dengan usaha sendiri. Padahal kita lupa, kalo bekerja sendirian, maka kita hanya memandang dengan kacamata kuda. Banyak blank spotnya. Misalnya, ada beberapa orang merasa sudah hebat, sudah berprestasi. Sudah "sukses" dalam bahasa mereka. Melihat orang-orang sekitarnya tak sesukses dirinya. Tapi ia tak sadar, bahwa sebenarnya dia cuma kebetulan berada di lingkungan yang kualitasnya ada di bawah dirinya. Orang-orang seperti ini akan merasa cepat puas, dan berhenti belajar. Saat dia berhenti belajar, terhenti juga perkembangannya. Nah, sedangkan ada orang-orang yang selalu mencari sosok lebih hebat dari dirinya. Misal kalo di sini ada yang sudah kerja nih ya. Selalu mencari senior yang bisa banyak ngajarin dia, ngasih petunjuk dan arahan. Pebisnis, selalu cari pebisnis lain yang lebih dari dirinya, untuk digali ilmu dan pengalamannya. Orang-orang seperti ini selalu memandang ke atas, mencari yang lebih baik sebagai tempatnya belajar. Selalu mencari MENTOR. IA AKAN TERUS BERKEMBANG. Mau jadi yang mana? Yang pertama enak sih, keren. Jadi "raja" terus yang di elu-elukan. Tapi yang kedua adalah pemenang kehidupan yang sesungguhnya.Pertanyaan kedua tadi. Bagaimana memilihnya ya? Cara memilih mentor yang tepat, sebenarnya simple. Kita ingin berkembang di bidang apa. Misal di sini ada orang namanya Mbak Citra, jagonya candid photography. Tapi ingin lebih sukses, maka Mbak Citra cari fotografer yang dirasa lebih hebat secara kemampuan fotografi. Cukup nilai dari itu, dan ABAIKAN YANG LAIN. Maksudnya ABAIKAN YANG LAIN GIMANA? Gini lho teman.... Seringkali kita tak pernah menemukan mentor yang dirasa tepat, karena kita mencari sosok yang terlalu sempurna. Misal.... Pengen jago di bidang desain. Ada sih temen yang dianggap lebih jago, pengen banget dijadiin mentor. Tapi dia hidupnya nggak bener.... Sholat enggak, makan halal haram nggak diperhatiin.... "Ogah ah jadiin dia mentor!" Padahal kebutuhan kita kan masukan dan arahan tentang desain, bukan yang lain. Ini sikap, adab kita pada mentor. Kalau kita udah nentuin seseorang jadi mentor kita. Hormati dan hargai, jadilah mentee yang baik. Jangan mundur dengan satu atau dua kekurangan. Namanya juga manusia, bukan malaikat. Cukup fokus pada apa yang ingin kita pelajari kepada mentor, dan ABAIKAN YANG LAIN. Itu!Jadi kalau boleh saya rangkum tentang bagaimana memilih mentor :
- Pastikan kompetensi yang ingin kita kuasai.
- Cari orang yang lebih hebat dari kita di kompetensi itu.
- Datangi dengan baik, jangan minta dia yang datang. Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi. Kalau perlu layani dia. Traktir di tempat yang enak. Ngemodal lah.
- Serap ilmunya, ikuti arahannya full selama tidak melanggar syariat.
- Abaikan hal-hal lain yang dirasa menjadi kekurangannya.
Dan ingat, Mentor itu memberikan akselerasi. Bisa nggak kita sukses tanpa mentor? BISA. Tapi kalau mau lebih cepet, carilah MENTOR. Biasanya masalah kita dalam memanfaatkan mentoring adalah, bukan soal mencari siapa mentornya. Tapi soal bagaimana adab kita kepada mentor. Karena pastinya kalau udah serius menjadikan seseorang menjadi mentor kita, kita bakalan capek disuruh ini, disuruh itu, bahkan hal-hal yang gak berhubungan. Kalo inget film-film Jackie Chan jaman dulu, dia mau belajar kung fu. Tapi malah disuruh gurunya bersih-bersih, ngangkat air. Dia bertanya, "Kapan belajar kung fu-nya?!" Tapi dia ikuti aja. Tanpa kita sadari, nurut ke mentor ini yang sebenarnya membuat ilmu yang kita dapet jadi lebih berkah. Saya pun berusaha seperti itu ke mentor-mentor saya. Terus terang, saya lulusan ITB S1-nya. Dan bagi anak ITB, nama kampus itu kebanggaan. Saya punya mentor, alumni kampus lain yang tidak se-terkenal ITB. Sama mentor saya disuruh angkat-angkat barangnya, bahkan disuruh nyetirin ya saya nurut, karena dia mentor saya. Saya sekarang sedang kuliah doktoral. Saya punya mentor yang kuliah S1 aja nggak lulus. Tapi disuruh bantuin kerjaannya tanpa dibayar pas dia lagi butuh, dimana kerjaan itu nggak berhubungan dengan bidang dimana saya dimentor ama dia, saya nurut. Kalau sudah sama mentor, kita nurut, hormati, hargai, tinggikan mentor. Gak peduli status. Adab ini yang paling sering bikin kita gagal dimentor orang. Dan perlu menjadi perhatian kita kalau mau Sukses dengan Mentoring.
Q-A
Momod : Riska_UNIMUS. Bagaimana menemukan orang yang se visi dengan kita untuk jadi mentor? Dan terkadang kita sendiri tidak tau passion kita bagaimana? Mohon tips dan tricknya mas.
Kak Surya : Nggak usah mikir Passion kalo belum ketemu. Lakukan dan selesaikan yang terbaik apa-apa yang terdekat. Misal sekarang lagi kerja, ya jadilah karyawan yang terbaik. Dan untuk milih mentor GAK PERLU SE VISI. Yang penting dia punya kompetensi yang ingin kita pelajari. Kalo Se Visi bukan jadiin mentor, tapi jadiin pasangan hidup aje :D
Momod : Annisa_ITS. Kalo seandainya kita sudah mencari mentor yang tepat akan tetapi mentornya setengah-setengah mau ngajarin kita itu gimana? Lebih tepatnya kalo saya sudah ikhlas diajari mentor tapi mentor itu hanya mau diajak berdiskusi di sosial media tanpa bertemu padahal ini menyangkut hal teknis yang harus real itu gimana ya? Apa saya harus mencari mentor lain?
Kak Surya : Kalo ke Mentor, KITA YANG BUTUH. Jadi:
Kita harus meyakinkan dia bahwa kita serius, bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan perbuatan.
Kita harus mau menyesuaikan dengan waktu dia.
Gak boleh protes kalau dia setengah-setengah. Mungkin bagi dia kita belum benar-benar pas dia bimbing. Evaluasi diri dan perbaiki. Sekedar pengalaman. Ada seorang mentor saya yang nggak mau begitu aja ngementor saya. Saya harus jadi "kacung"nya dalam waktu lama sampai dia benar-benar mau membimbing saya. Ya saya jalani kerjaan "kacung" itu. Ada mentor yang baru yakin keseriusan saya kalau bayar cukup mahal. Ya saya buktikan dengan membayarnya.
Tanggapan : Jadi lebih ke niat kita ya?
Kak Surya : Bukan hanya soal niat. Tapi keseriusan kita, ditunjukkan dengan upaya kita yang tak menyerah untuk memintanya benar-benar jadi mentor kita dan menularkan ilmu serta pengalamannya. Kalau baru dicuekin kita udah mundur, ya kita gakkan dapet mentor berkualitas. Karena mentor berkualitas biasanya justru gak gampang ditembus. Dan hormati serta layani. Misal kalo kita ajak ketemu, jangan ajak ketemu di warteg lah. Kita ajak ketemu di cafe yang enak, kita bayarin. Kalo perlu kita jemput di rumahnya. Kudu gitu. Kita kasih hadiah, kita belikan buku yang dia suka (kalo suka buku). Atau kalo mentor fotografi, kita modal kasih hadiah lensa yang berkualitas saat dia ulang tahun atau baru berhasil meraih prestasi intinya kita harus "ngerayu" ampe dapet. Karena.... KITA YANG BUTUH.
Tanggapan : Saya sudah ngelakuin itu semua hehe.. Tapi perlakuan tetap sama.
Kak Surya : Satu prinsip dalam berguru kepada mentor. ADAB DULU BARU ILMU. Adab kita dijaga dulu ke Mentor, ntar Ilmunya ngalir. Pernah sampe tingkat nyuciin piring dan gelas di rumah mentor gak? Saya udah pernah ampe gitu.
Momod : Syafaat_Untad. Kalau mentor saya beda daerah dengan kita apakah kita harus ketemu langsung dengan dia? Apakah bisa lewat social media? Adab mentoring lewat social media apa aja nih?
Kak Surya : Social media memudahkan. Kalau emang jauh, optimalkan. Bisa pakai WA, Line, Line Call, Skype, Zoom. Adabnya sama saja. Hanya saja tetap perlu diagendakan ketemu muka dengan mentor. Sebulan sekali, dua bulan sekali. Kita yang datengin, meskipun jauh. Karena pertemuan muka tetap tak tergantikan hehehe. Meskipun ketemu itu tanpa agenda khusus, anggep aja silaturahim ngobrol bebas. Tapi kita upayakan tetep ketemu sebulan sekali atau dua bulan sekali.
Momod : Asnan_STMIK Dutabangsa Surakarta. Saya memiliki dosen yang sebenernya ingin saya jadikan mentor saya, tapi masalahnya saya ini orangnya pendiam dan dosen saya itu orangnya humoris dan serba cepat dalam bekerja. Saya ingin jadikan dia mentor karena pengaruhnya sangat bagus namun humoris di kampus saya. Nah kira-kira bagaimana solusinya? Terimakasih.
Kak Surya : Tetaplah jadi diri sendiri. Dan jadilah pendengar dan penanggap yang baik atas selera humornya. Datangi, sampaikan maksud keinginan untuk menjadikan beliau mentor. Yang terpenting, lakukan segera tanpa menunda. Kalau perlu besok pagi WA dosennya buat janjian ketemuan karena menunda menjadikan kita kehilangan kesempatan besar.
Momod : Taneu Taria_UPI Bandung. Bagaimana mengakomodir rasa iri kita ke mentor ya ka? hehe. Karna kalau mentor yang tentu harus orang yang lebih dibandingkan kita, tapi yang ada saya kalau menghadapi orang-orang yang seperti itu malah jadi iri, ga terlalu suka ngehadapin orang-orang seperti itu, melihat orang-orang yang lebih dari saya malah jadi semakin sedih kenapa saya ga bisa jadi seperti itu. hehe.
Kak Surya : Wih.... sampe iri. Itu karena kita selalu MEMBANDINGKAN DIRI KITA DENGAN MENTOR. Gak perlu begitu. Kita tak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain. Jalan hidup tiap orang beda-beda, tantangan hidup beda-beda, kondisi lingkungan beda-beda. Yang perlu kita bandingkan adalah ANTARA DIRI KITA HARI INI DENGAN DIRI KITA DI MASA LALU. Sudah lebih baik atau belum. Toh tujuan kita mengambil mentor bukan untuk ngalahin mentor kita. Tapi agar diri kita esok hari lebih baik dari hari ini. Jadi saran saya STOP MEMBANDINGKAN DIRI KITA DENGAN MENTOR. BANDINGKAN DIRI KITA SEKARANG DENGAN KEMARIN. DAN DIRI KITA DI MASA DEPAN DENGAN HARI INI. Cukup fokus di sana.
Momod : Putri_Poltekkes Padang. Mas mau nanya nih. Gimana nih cara meyakinkan diri sendiri atau menguatkan diri untuk menjadi yang lebih baik lagi. Padahal udah memotivasi diri untuk jadi yang lebih baik tapi masih belum bisa melaksanakannya. Gimana caranya agar bisa lebih meyakinkan diri ini?
Kak Surya : Nah, jika kita susah meyakinkan diri sendiri... Ini pertanda bisa jadi sudah saatnya butuh orang lain untuk bantu yakinkan kita. Di situlah salah satu fungsi kita punya Mentor. Jadi gimana caranya? Buruan dapetin MENTOR. Karena pandangan "kacamata kuda" kita sudah tak cukup lagi buat meyakinkan diri.
Momod : Hamba Alloh. Kalau mau minta Mas Surya jadi mentor bagaimana caranya mas ?
Kak Surya : Ke rumah saya, ngobrol dulu. Kali aja saya gak cocok. Kalau cocok, nanti ada "tes keseriusan" dari saya wkwkwkwk. Banyak yang pengen tapi gak lulus "tes keseriusan" ini karena agenda saya padat. Saya hanya mau jadi mentor bagi orang-orang yang SERIUS buat dibina ya kalo serius, tetep dateng ke rumah saya. Di Bandung, area Dago Giri, Lembang wkwkwkwk. Saya sendiri buat minta dimentor sama seseorang, saya kejar lintas kota naik kereta. Ada yang harus bolak balik bandung-jakarta nyaris dua pekan sekali selama berbulan-bulan. Ilmu itu didatangi. Ini adab paling dasar.
Momod : Jule_Upi Bandung. Saya orang yang sangat moody. Memiliki semangat yang sangat menggebu-gebu dan tiba-tiba jenuh di tengah-tengah. Bagaimana saya bisa meneruskan mentoring dan tetap semangat ketika saya ditahap jenuh tersebut?
Kak Surya : Lanjut dikit sebelum jawab pertanyaan berikutnya. Saya kalau sudah memutusan ngementor seseorang, saya nggak main-main. Saya pun serius ngementor orang itu. Bahkan sudah membayangkan roadmap hidupnya dia kedepan. Saya pun nggak setengah-setengah. Makanya saya juga mau yang gak setengah-setengah. Jenuh ya... hehehe... Menarik. Tahu gak temen-teman, apa yang bikin kita jenuh belajar sesuatu? Karena kita gerak disitu-situ aja, menemui hal yang itu-itu aja biasanya terjadi karena kitanya pasif. Dalam mentoring kita berposisi terus "menerima". Mentor ngasih nasehat yang itu-itu terus. Tantangannya itu-itu aja jenuh pastinya. Makanya Mentoring yang tepat itu, kita aktif datang ke Mentor sudah bawa bahan. Jadi di luar ketemuan sama mentor kita aktif mengkaji dan mengkaji. Sama mentor tinggal diskusi kita dimentor dalam bidang apa? Bisnis misalnya perbanyaklah baca buku bisnis, observasi banyak model bisnis yang berbeda... Jangan hanya nunggu disuapin mentor semakin kita banyak membaca, mengkaji, mengobservasi, dan menjalankan dengan ragam variasi, kita akan semakin banyak memunculkan pertanyaan-pertanyaan gak ada matinya, karena kita takkan pernah mencapai kesempurnaan. Nah pertanyaan-pertanyaan inilah yang kita bawa ke mentor.
Tanggapan : Kalau misalkan kita sudah terlanjur mentoring, terus jenuh nih kang, adakah tips and trick melepas kejenuhan itu?
Kak Surya : Kalau kita pembelajar aktif, nanti ketemu mentor pasti udah bawa banyak kasus dan pertanyaan beda lagi. Kita pun dapat ilmu lebih lagi kalo kadung jenuh? Rehat dulu aja sejenak (jangan lama-lama), lakukan hal lain, atau temui mentor lain. Rehat sejenak ga ada salahnya kok. Ibarat di balapan mobil, berhenti dulu buat pit stop. Komunikasikan dengan mentor buat rehat sejenak, minta waktu jangan sampe ngilang tanpa komunikasi.
Momod : Menarik nih, Mas Surya kalau boleh tahu punya mentor berapa? Dan dengan posisi mas sekarang apa masih mentoring?
Kak Surya : Masih dong. Yang paling aktif dan intensif ada dua mentor. Bidang mentor saya adalah personal development, career, & education.
Momod : Mentornya Kak Surya di bidang apa aja kak?
Kak Surya : Dua-duanya di bidang yang terkait dengan profesi saya sebagai konsultan, sekarang. Dulu pernah punya mentor menulis, mentor bisnis terus mentor kehidupan. Tapi sekarang sudah tidak terlalu intensif.
Tanggapan : Kalau mentor menulis cari dimana mas?
Kak Surya : Bisa cari dimana-mana hehehe. Cari penulis atau editor yang hebat. Mentor nulis saya dulu Pak Bambang Trim.
Momod : Nengah Okta_Universitas Lampung. Bagaimana sih kak menjadi mentor yang baik?
Kak Surya : Jadi mentor yang baik :
- Kita harus EXPERTISE di bidang dimana kita jadi mentor. Iya dong, jadi mentor kudu berilmu dan berpengalaman. Karena sejatinya mentor banyak mengajar dan mengarahkan melalui pengalamannya.
- Kita perlu mampu membantu mentee merancang LEARNING MAP-nya, sehingga mentee tahu dan paham kemana dia akan mengarahkan dirinya.
- Kemampuan observasi kita perlu bagus. Dan harus bisa serta mau memberikan feedback secara teruka, tegas, dan asertif. "Nggak enakan" dalam ngasih koreksi, bukan mentor yang baik.
Tiga ini aja cukup.
Closing Statement
Closing statement saya ada beberapa point :
Jangan kepedean bisa sukses sendiri. Cari Mentor, itu menunjukkan kerendahan hati kita untuk mau terus berkembang.
Perhatikan Adab kepada Mentor. Adab, Adab, Adab!!! Percayalah, menjaga adab akan membuat ilmu sang mentor turun dengan sendirinya.
Mentor juga butuh dimentor. Dan kalo sudah dimentor orang lain, ambil orang sebagai mentee Anda. Di sana menjadi siklus pembelajaran yang lengkap.
Serius mau saya jadi Mentor Anda? Datang ke rumah saya. Hubungi saya di 0811 2244 111. Dago Giri, dari terminal dago 2 kilo lagi.
No comments:
Post a Comment